[Buku] Blue, Painful, and Brittle
Judul: Blue, Painful, and Brittle
Jenis: Fiksi terjemahan
Genre: Drama
Penulis: Sumino Yoru
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 364 halaman, 13x19 cm
Terbit: September 2020
Tema hidup Kaede adalah menjaga jarak dan tidak menentang pendapat orang lain. Tapi tanpa sadar, Kaede membiarkan Akiyoshi yang punya pendapat berbeda dengan kebanyakan orang, memangkas jarak di antara mereka. Akiyoshi yang idealis dan penuh semangat itu meyakinkan Kaede pentingnya mengubah dunia menjadi lebih baik. Bersama-sama, mereka membentuk Moai, sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk mewujudkan idealisme itu.
Seiring bertambahnya anggota, tujuan awal Moai mulai terlupakan. Moai menjadi besar dan terkenal, tapi bukannya merealisasikan idealisme, Moai justru menjadi organisasi pencari kerja bagi anggotanya dengan berbasis nepotisme.
Kaede yang tidak bisa membiarkan penyelewengan idealisme, mulai menyusun rencana untuk menghancurkan Moai, bukan hanya demi dirinya, tapi juga demi Akiyoshi yang tidak ada lagi di dunia.
"Makanya, kalau nanti terjadi sesuatu padaku, Kaede-lah yang harus melanjutkan tekadku dan klub Moai." (Akiyoshi, halaman 52)
Bagian awal novel ini terasa menarik, mungkin karena ada Akiyoshi yang riang dan blak-blakan. Begitu lewat bab satu, ceritanya mendadak datar, sedatar sifat Kaede. Tapi ini cerita tentang orang yang tadinya suka menghindari masalah, tiba-tiba mau cari masalah. Jadi saya pikir bakal menarik. Penasaran, apa akhirnya Kaede dengan segala kedatarannya berhasil menghancurkan Moai.
Beberapa review menyebutkan kalau Blue, Painful, and Brittle ini ceritanya flat, nggak ada seru-serunya. Ya mau gimana lagi? Apa yang bisa diharapkan dari tokoh sedatar Kaede? Meski dia berambisi menghancurkan organisasi besar, tapi karena sifatnya yang suka cari aman, metodenya pun jadi minim konflik, bukan yang frontal dan bisa memicu keseruan. Justru malah aneh kan, kalau dia berani ngelabrak petinggi-petinggi Moai atau masukin bom ke pertemuan anggotanya? 😅
Meski begitu, ada sesuatu yang bikin saya nggak bisa berhenti baca. Salah satunya tentang misteri menghilangnya Akiyoshi. Karena setelah lewat bab 1, Akiyoshi yang kemunculan singkatnya begitu membekas di hati, malah nggak muncul lagi. Padahal dia tokoh yang secara signifikan memengaruhi perkembangan karakternya Kaede.
Plot twist ternyata bisa diciptakan lewat narasi, dan saya mengaku terkecoh oleh narasinya Sumino Yoru-sensei. Cukup menjebak. Tapi saya penasaran apakah twistnya bisa tercipta juga di versi layar lebar? Karena film bersifat audio visual, rasanya bakal lebih susah untuk mengakali penonton.
Kebetulan sekali, film Blue, Painful, and Brittle pada 24 Februari 2021 mulai tayang di Netflix. Dilihat dari trailer, sepertinya versi film lebih seru. Pingin tahu juga, apa Kaede yang datar itu cocok diperanin sama Oryo (Yoshizawa Ryo) yang tatapannya aja mengandung berjuta ekspresi. Oryo sendiri sepertinya merasa tertantang memerankan Kaede. Dalam suatu wawancara, Oryo mengaku baru kali itu ia memerankan tokoh yang berpotensi tidak disukai penonton.
IDEALISME DAN PROSES PENDEWASAAN
Menurut Penerbit Haru, tema Blue, Painful, and Brittle adalah idealisme. Tapi menurut saya malah lebih dari itu. Novel ini juga menceritakan tentang proses pendewasaan dan pencarian jati diri.
Jenis: Fiksi terjemahan
Genre: Drama
Penulis: Sumino Yoru
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 364 halaman, 13x19 cm
Terbit: September 2020
Tema hidup Kaede adalah menjaga jarak dan tidak menentang pendapat orang lain. Tapi tanpa sadar, Kaede membiarkan Akiyoshi yang punya pendapat berbeda dengan kebanyakan orang, memangkas jarak di antara mereka. Akiyoshi yang idealis dan penuh semangat itu meyakinkan Kaede pentingnya mengubah dunia menjadi lebih baik. Bersama-sama, mereka membentuk Moai, sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk mewujudkan idealisme itu.
Seiring bertambahnya anggota, tujuan awal Moai mulai terlupakan. Moai menjadi besar dan terkenal, tapi bukannya merealisasikan idealisme, Moai justru menjadi organisasi pencari kerja bagi anggotanya dengan berbasis nepotisme.
Kaede yang tidak bisa membiarkan penyelewengan idealisme, mulai menyusun rencana untuk menghancurkan Moai, bukan hanya demi dirinya, tapi juga demi Akiyoshi yang tidak ada lagi di dunia.
"Makanya, kalau nanti terjadi sesuatu padaku, Kaede-lah yang harus melanjutkan tekadku dan klub Moai." (Akiyoshi, halaman 52)
Bagian awal novel ini terasa menarik, mungkin karena ada Akiyoshi yang riang dan blak-blakan. Begitu lewat bab satu, ceritanya mendadak datar, sedatar sifat Kaede. Tapi ini cerita tentang orang yang tadinya suka menghindari masalah, tiba-tiba mau cari masalah. Jadi saya pikir bakal menarik. Penasaran, apa akhirnya Kaede dengan segala kedatarannya berhasil menghancurkan Moai.
Beberapa review menyebutkan kalau Blue, Painful, and Brittle ini ceritanya flat, nggak ada seru-serunya. Ya mau gimana lagi? Apa yang bisa diharapkan dari tokoh sedatar Kaede? Meski dia berambisi menghancurkan organisasi besar, tapi karena sifatnya yang suka cari aman, metodenya pun jadi minim konflik, bukan yang frontal dan bisa memicu keseruan. Justru malah aneh kan, kalau dia berani ngelabrak petinggi-petinggi Moai atau masukin bom ke pertemuan anggotanya? 😅
Meski begitu, ada sesuatu yang bikin saya nggak bisa berhenti baca. Salah satunya tentang misteri menghilangnya Akiyoshi. Karena setelah lewat bab 1, Akiyoshi yang kemunculan singkatnya begitu membekas di hati, malah nggak muncul lagi. Padahal dia tokoh yang secara signifikan memengaruhi perkembangan karakternya Kaede.
TWIST
Plot twist ternyata bisa diciptakan lewat narasi, dan saya mengaku terkecoh oleh narasinya Sumino Yoru-sensei. Cukup menjebak. Tapi saya penasaran apakah twistnya bisa tercipta juga di versi layar lebar? Karena film bersifat audio visual, rasanya bakal lebih susah untuk mengakali penonton.
Kebetulan sekali, film Blue, Painful, and Brittle pada 24 Februari 2021 mulai tayang di Netflix. Dilihat dari trailer, sepertinya versi film lebih seru. Pingin tahu juga, apa Kaede yang datar itu cocok diperanin sama Oryo (Yoshizawa Ryo) yang tatapannya aja mengandung berjuta ekspresi. Oryo sendiri sepertinya merasa tertantang memerankan Kaede. Dalam suatu wawancara, Oryo mengaku baru kali itu ia memerankan tokoh yang berpotensi tidak disukai penonton.
IDEALISME DAN PROSES PENDEWASAAN
Menurut Penerbit Haru, tema Blue, Painful, and Brittle adalah idealisme. Tapi menurut saya malah lebih dari itu. Novel ini juga menceritakan tentang proses pendewasaan dan pencarian jati diri.
Berawal dari keberanian mengejar idealisme, Akiyoshi menemukan cara untuk membantu banyak orang menjadi sosok ideal yang mereka inginkan. Setiap manusia punya peran tersendiri dalam kehidupan. Dan peran itu baru bisa ditemukan jika kita berani menghadapi ketakutan-ketakutan dalam diri kita.
Pada akhirnya, Kaede tidak lagi menjadi pribadi yang cuma cari aman. Terinspirasi oleh Akiyoshi, ia memberanikan diri meraih keinginan meski harus menanggung resiko sakit hati jika semua tak berjalan sesuai rencana.
"Menurutku, bertumbuh itu ketika kita bisa menerima diri kita apa adanya. Setelah menerimanya, tidak masalah juga kalau puas berada di sana, tapi aku berbeda. Karena itu, meski sedikit demi sedikit, meski takut, aku melakukannya (menghadapi ketakutan) karena aku ingin tahu apa yang ada di baliknya." (Akiyoshi, halaman 330)
#books #bookstagram #bookstagrammer #bookstagrammerindonesia #booksbooksbooks #booksofinstagram #booksofig #buku #novel #suminoyoru #bluepainfulandbrittle #aokuteitakutemoroi
#books #bookstagram #bookstagrammer #bookstagrammerindonesia #booksbooksbooks #booksofinstagram #booksofig #buku #novel #suminoyoru #bluepainfulandbrittle #aokuteitakutemoroi


Komentar
Posting Komentar